• PUISI 1

    PADA SIAPA


    Buayan penghuni hati tak jua basahkan jiwa
    Menatap dalam duka di heningnya temaram
    Kisi-kisi kalbumenari anggun terbuai nirwana
    Dan cinta tak kunjung padam dihempas badai

    Bagai anak burung berjingkat-jingkat dari dahan kedahan
    Manggoreskan bekas di setiap ranting-ranting yang dihinggapi
    Terasa merdu terdengar suara simfoni alam
    Menguapkan embun pagi yang terkikis mentari

    Lalu duniapun menatap sinis
    Seolah menghardik dengan sadis
    Keanggunan yang kucari keserakahan yang kugapai
    Sepercik air yang kuharap air bah yang kudapat

    Perlahan namun pasti putaran iris janji tertumpah jua
    Dan dentuman alunan rindu tak tertahan membelah rongga hati
    Pada siapa kumenari dalam hening
    Padahal Mentari tak kunjung bosan menyinari




    BISU DALAM TATAPAN


    Bagai awan putih menari di kepala
    Memancarkan birunya langit dalam biasan sang surya
    Mata yang berbinar meneduhkan panasnya nestapa
    Memancarkan oasis di gersangnya angin barat

    Terperanjat dalam setiap kedipan
    Terpesona dalam setiap tuturkata
    Akankah gelombang terus menusuk daging hingga ketulang
    Ataukah hancur bagai es kutub yang perlahan mencair

    Tak terperi tatkala hati meronta
    Seolah pelangi mmbisukan setiap ucapan
    Perangai mimpi menjadi-jadi dalam detik nafas
    Dan melodi menjadi lagu seperti pena menjadi puisi

    Semerbak kesturi tak kuhiraukan
    Aku egois dalam sekuntum bunga
    Tak peduli duri yang aan melukaiku
    Berharap abadi akan kugapai meski aral membentang
    Dalam simbahan harap ku memohon



    SIMFONI KEHENINGAN


    Punahnya mentari disore ini seakan yankin esok kembali lahir
    Langit yang memerah jingga menyisakan satu titik sinar di ufuk timur
    Suara bintang gemintang kembali membahana
    Seakan bertalu-talu merebut keheningan dalam gelap

    Kesombongan binatang malam Berteriak mengacaukan senyapnya kejujuran
    Hitam pekat dunia ini terasa
    Padahal putihnya salju menjadi ribuan damba bahkan jutaan
    Lalu tergolek tanpa daya dalam syair tak berujung
    Terimakasih pada tanah, air, udara bahkan api

    yang tanpa lelah silih berganti terlupakan
    Yang mememkarkan sekuntum bunga dilangit ketujuh
    Yang membelah bebijian yang tertanam di alam nirwana

    Lalu ijinkan jemari halus mengussap wajah penuh kerutan
    Arahkan mata angin yang perlahan membelok
    Jadikan muara menyapa dermaga




    NALURI


    Lorong sempit bercadas tak jua benamkan hati
    Tanpa alas kaki terus melangkah
    Bagai ikuti naluri berjalan tanpa navigasi
    Panasnya aspal dan pengapnya kota mendewasakan nyali

    Cemoohan, hardik, umpatan adalah sarapan
    Kegetiran, keutusasaan dan malu adalah cinta
    Manusia dengan janji tanpa menoleh
    insan yang anggun namun tuli, buta dan bisu

    Kemana jiwa melahap derasnya kasih
    Dimanakah peluh menjadi cairan sayang
    Sedangkan rindu menguap di tepian perdu
    Lalu hilang tanpa jejak

    Lusuh, kurus, kumal,dan pucat itulah nestapa
    Emas, berlian, intan,dan mutiara itula duka
    Entah apa di mata sang dewa
    Matikah ia dalam balutan kemahadigjayaan


    Cipt Cahya Sunandar 2008

0 comments: